Pagi tadi, saya dan kakak pergi ke kuburan alm.Ibu. Memang sudah menjadi kebiasaan (terutama kakak) mengunjungi "rumah" Ibu setiap seminggu sekali. Berdoa (dengan Bahasa Indonesia) untuk Ibu agar mendapat keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Berbeda dari biasanya, hari ini saya menambahkan kalimat yang saya ucapkan pelan di depan kuburan Ibu. Kalimat tersebut yaitu ucapan permohonan maaf karena saya belum bisa mencapai salah satu keinginan Ibu, yaitu saya belum bisa lolos menjadi cpns."Bu, maafin aku ya Bu, aku gagal di cpns tahun ini."
Seperti yang saya ketahui bahwa Ibu saya mendukung dan ingin saya menjadi cpns/pns. Hal itu dibuktikan dengan dukungannya tahun 2013 ketika saya mendaftar dan ikut test cpns. Beliau mengantar saya kesana kemari untuk melengkapi berkas2. Rezeki memang unpredictable. Kalau memang belum rezeki ya ga lolos. Maaf ya Bu.
Saturday, January 17, 2015
Friday, January 16, 2015
Ketika Saya Melamar Pekerjaan di Tempat Sebelumnya.
Hari ini saya mencoba peruntungan rezeki di salah satu instansi yang tidak asing lagi bagi saya. Jeng.. Jeng.. Jeng.. Instansi tempat saya bekerja sebelumnyaaaaaa... Hehehe..
Memang sih, sebelumnya saya pernah berujar untuk berusaha tidak bekerja di tempat yang sama lagi. Saya akan berusaha mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih baik. Hehehe.. Gaya banget ya waktu itu.. Ternyataaa, mencari pekerjaan itu suliiittt.. Sebenarnya bagi masing-masing orang akan berbeda, tergantung rezekinya masing-masing.
Mengingat jurusan kuliah yang dulu pernah saya tempuh selama 4 tahun itu tidak terlalu familiar, dan kemampuan saya yang masih tergolong "biasa", hal itu yang membuat terasa sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Hehehe. Kesulitan tersebut bila dibandingkan dengan mereka2 lulusan Fakultas Ekonomi, Akuntansi, Teknik, Manajemen, IT, dan fakultas familiar lainnya.
Balik ke tema. Intinya hari ini saya melamar di instansi sebelumnya. Saat ini saya melamar pekerjaan apapun yang bisa saya lamar sesuai requirements, lalu melihat instansi mana yang duluan mau menerima saya. :)
Doakan saya ya kawan kawan. Semoga diberi rezeki yang banyak, berkah, dan terbaik untuk saya. Aamiin.
Memang sih, sebelumnya saya pernah berujar untuk berusaha tidak bekerja di tempat yang sama lagi. Saya akan berusaha mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih baik. Hehehe.. Gaya banget ya waktu itu.. Ternyataaa, mencari pekerjaan itu suliiittt.. Sebenarnya bagi masing-masing orang akan berbeda, tergantung rezekinya masing-masing.
Mengingat jurusan kuliah yang dulu pernah saya tempuh selama 4 tahun itu tidak terlalu familiar, dan kemampuan saya yang masih tergolong "biasa", hal itu yang membuat terasa sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Hehehe. Kesulitan tersebut bila dibandingkan dengan mereka2 lulusan Fakultas Ekonomi, Akuntansi, Teknik, Manajemen, IT, dan fakultas familiar lainnya.
Balik ke tema. Intinya hari ini saya melamar di instansi sebelumnya. Saat ini saya melamar pekerjaan apapun yang bisa saya lamar sesuai requirements, lalu melihat instansi mana yang duluan mau menerima saya. :)
Doakan saya ya kawan kawan. Semoga diberi rezeki yang banyak, berkah, dan terbaik untuk saya. Aamiin.
Kegagalan I di Tahun 2015.
Kegagalan kembali melandaku. (Yaelah, kadang pake "gw", kadang pake "saya", dan kadang pula pake "aku". Kalo pas pake "aku", biasanya lagi galau. Hehe). Kesempatan bekerja yang beberapa waktu lalu sangat kuharapkan, kini pupus sudah. Salah satu agan di thread kaskus yang biasa aku baca mengabarkan kalau instansi X (instansi cpns yg aku lamar) mengumumkan kelulusan TKB-nya (it's mean last result). Langsung dong, aku liat pengumuman itu. Baca satu2 nama-nama peserta yang lulus, eh sampe nomor urut terakhir, ga ketemu juga namaku.
Iniyang namanya kegagalan. hehehe. (continue..)
Iniyang namanya kegagalan. hehehe. (continue..)
Thursday, December 4, 2014
Apa Pendapat Kalian Tentang Arti Mimpi Gigi Copot?
Temen-temen percaya tentang arti mimpi gak sih? Kalo gw sih sebenernya percaya ga percaya. Kalo dibilang ga percaya, tapi pernah kejadian. Sekitar seminggu sebelum nyokap meninggal, gw mimpi gigi gw copot. Memang mimpi itu dateng pas pagi2.
Sudah rahasia umum, kalau kita mimpi salah satu gigi copot, maka artinya akan ada anggota keluarga akan meninggal. Pas bangun pagi, gw diem lamaaaaa bgt. Ya Allah, akan ada apa ya nanti.
Gue pun cerita ke bokap kalo gw mimpi buruk. Bokap langsung bilang, kalo mimpi buruk jangan diceritain mimpinya ke orang lain. Simpen aja sendiri. Banyak mimpi yang hanya sekedar bunga tidur. Baiklah, gw ga cerita ke bokap tentang mimpi itu.
Gue searching di internet memang mayoritas artinya sama. Lalu gw juga baca salah satu ornag yang sharing tentang hal yang sama. Dia memendam saja mimpi itu, tidak menceritakan mimpi tersebut ke siapa2, dan tetep berdoa semoga tidak terjadi hal buruk. Alhasil memang tidak terjadi apa2, tiddak ada yang meninggal dari keluarganya dalam waktu dekat itu.
Gw pun melakukan hal yang sama, tidak menceritakan kepada siapapun, tidak mengingat2 mimpi itu lagi, berdoa, dan berfikir positif bahwa itu hanya bunga tidur. Namun, takdir berkata lain. Sekitar 1 mingguan (lupa tepatnya kapan krna gw bener2 mau melupakan mimpi itu), Ibundaku tercinta yang memang sedang sakit, menghembuskan nafas terakhirnya.
Yahhh, memang maut seseorang hanya Allah yang tau kapan saat itu tiba. Saya juga tidak menyalahkan mimpi yang datang karena bukan kehendak atau keinginan kita cerita dalam mimpi akan seperti apa. Wallahu alam.
Sudah rahasia umum, kalau kita mimpi salah satu gigi copot, maka artinya akan ada anggota keluarga akan meninggal. Pas bangun pagi, gw diem lamaaaaa bgt. Ya Allah, akan ada apa ya nanti.
Gue pun cerita ke bokap kalo gw mimpi buruk. Bokap langsung bilang, kalo mimpi buruk jangan diceritain mimpinya ke orang lain. Simpen aja sendiri. Banyak mimpi yang hanya sekedar bunga tidur. Baiklah, gw ga cerita ke bokap tentang mimpi itu.
Gue searching di internet memang mayoritas artinya sama. Lalu gw juga baca salah satu ornag yang sharing tentang hal yang sama. Dia memendam saja mimpi itu, tidak menceritakan mimpi tersebut ke siapa2, dan tetep berdoa semoga tidak terjadi hal buruk. Alhasil memang tidak terjadi apa2, tiddak ada yang meninggal dari keluarganya dalam waktu dekat itu.
Gw pun melakukan hal yang sama, tidak menceritakan kepada siapapun, tidak mengingat2 mimpi itu lagi, berdoa, dan berfikir positif bahwa itu hanya bunga tidur. Namun, takdir berkata lain. Sekitar 1 mingguan (lupa tepatnya kapan krna gw bener2 mau melupakan mimpi itu), Ibundaku tercinta yang memang sedang sakit, menghembuskan nafas terakhirnya.
Yahhh, memang maut seseorang hanya Allah yang tau kapan saat itu tiba. Saya juga tidak menyalahkan mimpi yang datang karena bukan kehendak atau keinginan kita cerita dalam mimpi akan seperti apa. Wallahu alam.
Friday, November 21, 2014
Dampak kenaikan BBM bagi abang penjual donat. jadi tambah pelit!
Ada salah satu dampak kenaikan BBM yang gue rasain pagi ini. Ga terlalu besar sih, cuma bikin jengkel aja. Ceritanya pagi tadi gue beli donat serebuan yg biasanya ditemenin sama bakpao (bakpao abal2 yg serebuan juga). Biasanya tuh, gw beli donat ama bakpao, semuanya ditaburin sama gula halus. Abangnya ga protes. Ehh semenjak BBM naik jadi Rp.8500,- gw beli donat sama bakpao, bakpaonya ga boleh ditaburin gula, cuma donat doang yg boleh ditaburin. Gue bilang, "Lah, biasanya saya kalo beli, bisa kok bakpaonya sekalian dikasih gula". Jawabnya, "Sekarang ga bisa Neng!.
Ngebetein banget tuh abang2. Besok2 gw ga bakalan mau beli donat sama tuh orang. Gula sejimpit doang padahal... Hahahaha...
Ngebetein banget tuh abang2. Besok2 gw ga bakalan mau beli donat sama tuh orang. Gula sejimpit doang padahal... Hahahaha...
Wednesday, November 19, 2014
Ceritaku Mengejar Tanda Tangan
Assalamualaikum wr.wb. Sebebernya udah minggu lalu mau ngeblog dan cerita ttg aktifitas gw yg "biasa" aja ini. Hehehehe... Berhubung pake Opera Mini malah ga bisa akses blogger.com, jadinya tertunda deh.
Ceritanya, keluarga dari nyokap gw lagi ada urusan tanah di kampung nyokap, sebut saja Kampung Z. Oleh karena Ibu telah tiada, maka pengacara pihak kami butuh "Surat Keterangan Ahli Waris". Dibuatlah draft isi surat tersebut oleh pengacara tsb, saya tinggal "mengejar" TTD Kakak, Adik sebagai "si pembuat keterangan" dan TTD Ketua RT, RW, Lurah, dan Camat. Pikirku saat itu, "Ihhhh... MALES BGT... RIBETTTT".
Draft surat tersebut sampailah ke rumah Om saya yg satu kota dengan saya. Lalu ia mengantarkan langsung ke rumah dan menjelaskan duduk perkaranya, saya diminta bantuan untuk TTD ini itu. Yahhh, oleh karena ini untuk keluarga besar yg ada di Kota Z, mau ga mau saya harus bergerak walaupun ribet. Kalo untuk TTD kakak adik gampang, tetapi kalo untuk para pejabat itu yg ribet.
Pas ke rumah Pak RT (sampai 3x karena ga ada di tempat) dan ke rumah Pak RW (alhamdulillah ada pas sekali kunjungan) masih aman. Lain halnya pas "berkunjung" ke Kantor Lurah dan Kantor Kecamatan, ternyata ada pelajaran yang bisa dipetik. Salah satunya yaitu ketelitian.
Pertama, datang ke Kantor Lurah hanya membawa draft surat keterangan, KTP saya, Kartu Keluarga, fotokopi surat keterangan kematian alm.Ibu. Saat sampe di kantor Lurah, saya langsung menuju ke lantai 2, ruangan beliau langsung. Tidak terlalu lama menunggu beliau pulang upacara di Kantor Kecamatan, saya pun mengutarakan maksud kedatangan untuk apa. Beliau baca dengan seksama dulu ternyata dan juga ingin lihat bukti ini itu di kalimat yg ada di draft tersebut. Awalnya saya fikir, Kartu Keluarga bisa "merangkum" penjelasan anak2 almarhum siapa2 saja.
Secara agak rincinya seperti ini:
1. Ada keterangan: "...Almarhumah Ibu XXXXXX yang bertempat tinggal terakhir di XXXXXXXX...". Saya wajib memperlihatkan Surat Keterangan Kematian.
2. Ada keterangan: "....Bahwa dari perkawinan Almarhumah Ibu XXXX dengan Suaminya yakni XXXXX...". Saya wajib memperlihatkan Surat Nikah orang tua (boleh fotokopi). Fikir saya, apa berarti Kartu Keluarga belum cukup membuktikan bahwa Ibu dan Bapak telah sah menikah ya? Hehehehe.
3. Ada keterangan: "...telah dilahirkan X orang anak yakni XXXX...". Saya wajib memperihatkan KK dan Akta Kelahiran setiap anak (saya, kakak, adik).
Draft yg diajukan ada beberapa rangkap (intinya ada 8 kolom TTD) dengan 4 TTD dari isi surat keterangan yg sama. Sedangkan 4 TTD lain dengan isi surat keterangan berbeda yg intinya disitu tercantum nama-nama Saudara almarhum Ibu saya. Pak Lurah mengatakan hal itu bukan kewenangannya, jadi saya fikir benar juga. Bagaimana bisa Pak Lurah mengecek keluarga lain yg bukan warganya, apalagi di luar kota seperti itu. Oke, Bapak teliti juga. Ternyata tidak semua pengacara itu selalu mengerti detail setiap kata2 yg ia tulis dalam draftnya perlu atau tidak.
Keesokan paginya saya menuju ke kantor Kecamatan. Disini juga saya lebih paham lagi mengenai pentingnya ketelitian.
Sampai sekretariatnya, dibaca teliti lagi dan keberatan untuk dimasukkan ke ruangan Pak Camat. Takut kesalahan katanya. Udah tau salah, masih saja berani disodorkan TTD ke Bos. Istilahnya seperti itu.
Kesalahan-kesalahan yaitu dari judulnya saja sudah salah, bukan "Surat Keterangan" tapi "Surat Pernyataan". Selain itu di dalam draft tersebut tercantum mengenai tanah yang dimaksud, misalnya luas tanah, alamat, dll. Sekarang logikanya, bagaimana bisa Pak Camat dan karyawannya mengecek kebenaran informasi tanah tersebut. Wewenang beliau kan masalah kependudukan. Seharusnya tidak usah dicantumkan mengenai tanah, tetapi cukup siapa2 saja anak almarhumah. Satu lagi salahnya, surat keterangan tidak bisa rangkap 4 (asli semua). Seharusnya asli TTD cukup 1, sisanya legalisir.
Bagus juga ya ketelitiannya sekretariat Pak Camat. Hehehehe.
Ceritanya, keluarga dari nyokap gw lagi ada urusan tanah di kampung nyokap, sebut saja Kampung Z. Oleh karena Ibu telah tiada, maka pengacara pihak kami butuh "Surat Keterangan Ahli Waris". Dibuatlah draft isi surat tersebut oleh pengacara tsb, saya tinggal "mengejar" TTD Kakak, Adik sebagai "si pembuat keterangan" dan TTD Ketua RT, RW, Lurah, dan Camat. Pikirku saat itu, "Ihhhh... MALES BGT... RIBETTTT".
Draft surat tersebut sampailah ke rumah Om saya yg satu kota dengan saya. Lalu ia mengantarkan langsung ke rumah dan menjelaskan duduk perkaranya, saya diminta bantuan untuk TTD ini itu. Yahhh, oleh karena ini untuk keluarga besar yg ada di Kota Z, mau ga mau saya harus bergerak walaupun ribet. Kalo untuk TTD kakak adik gampang, tetapi kalo untuk para pejabat itu yg ribet.
Pas ke rumah Pak RT (sampai 3x karena ga ada di tempat) dan ke rumah Pak RW (alhamdulillah ada pas sekali kunjungan) masih aman. Lain halnya pas "berkunjung" ke Kantor Lurah dan Kantor Kecamatan, ternyata ada pelajaran yang bisa dipetik. Salah satunya yaitu ketelitian.
Pertama, datang ke Kantor Lurah hanya membawa draft surat keterangan, KTP saya, Kartu Keluarga, fotokopi surat keterangan kematian alm.Ibu. Saat sampe di kantor Lurah, saya langsung menuju ke lantai 2, ruangan beliau langsung. Tidak terlalu lama menunggu beliau pulang upacara di Kantor Kecamatan, saya pun mengutarakan maksud kedatangan untuk apa. Beliau baca dengan seksama dulu ternyata dan juga ingin lihat bukti ini itu di kalimat yg ada di draft tersebut. Awalnya saya fikir, Kartu Keluarga bisa "merangkum" penjelasan anak2 almarhum siapa2 saja.
Secara agak rincinya seperti ini:
1. Ada keterangan: "...Almarhumah Ibu XXXXXX yang bertempat tinggal terakhir di XXXXXXXX...". Saya wajib memperlihatkan Surat Keterangan Kematian.
2. Ada keterangan: "....Bahwa dari perkawinan Almarhumah Ibu XXXX dengan Suaminya yakni XXXXX...". Saya wajib memperlihatkan Surat Nikah orang tua (boleh fotokopi). Fikir saya, apa berarti Kartu Keluarga belum cukup membuktikan bahwa Ibu dan Bapak telah sah menikah ya? Hehehehe.
3. Ada keterangan: "...telah dilahirkan X orang anak yakni XXXX...". Saya wajib memperihatkan KK dan Akta Kelahiran setiap anak (saya, kakak, adik).
Draft yg diajukan ada beberapa rangkap (intinya ada 8 kolom TTD) dengan 4 TTD dari isi surat keterangan yg sama. Sedangkan 4 TTD lain dengan isi surat keterangan berbeda yg intinya disitu tercantum nama-nama Saudara almarhum Ibu saya. Pak Lurah mengatakan hal itu bukan kewenangannya, jadi saya fikir benar juga. Bagaimana bisa Pak Lurah mengecek keluarga lain yg bukan warganya, apalagi di luar kota seperti itu. Oke, Bapak teliti juga. Ternyata tidak semua pengacara itu selalu mengerti detail setiap kata2 yg ia tulis dalam draftnya perlu atau tidak.
Keesokan paginya saya menuju ke kantor Kecamatan. Disini juga saya lebih paham lagi mengenai pentingnya ketelitian.
Sampai sekretariatnya, dibaca teliti lagi dan keberatan untuk dimasukkan ke ruangan Pak Camat. Takut kesalahan katanya. Udah tau salah, masih saja berani disodorkan TTD ke Bos. Istilahnya seperti itu.
Kesalahan-kesalahan yaitu dari judulnya saja sudah salah, bukan "Surat Keterangan" tapi "Surat Pernyataan". Selain itu di dalam draft tersebut tercantum mengenai tanah yang dimaksud, misalnya luas tanah, alamat, dll. Sekarang logikanya, bagaimana bisa Pak Camat dan karyawannya mengecek kebenaran informasi tanah tersebut. Wewenang beliau kan masalah kependudukan. Seharusnya tidak usah dicantumkan mengenai tanah, tetapi cukup siapa2 saja anak almarhumah. Satu lagi salahnya, surat keterangan tidak bisa rangkap 4 (asli semua). Seharusnya asli TTD cukup 1, sisanya legalisir.
Bagus juga ya ketelitiannya sekretariat Pak Camat. Hehehehe.
Tuesday, November 18, 2014
Mengantar Bapak Periksa ke RS.X
Hari ini gw undur jadwal gw untuk jalan pagi ke TMII karena rencana mau anter bokap ke salah satu rumah sakit. Ya sekalian cari alasan lain selain malas. Hehehe..
Sekitar pukul 8.30 mulai berangkat naik motor. Alhamdulillahnya ga terlalu macet. Gue berangkat ke RS ini juga perlu persiapan, yaitu persiapan mental. Persiapan itu perlu karena banyak kenangan gw di RS ini bareng almarhum nyokap gw baik itu saat2 sehat maupun saat2 sakit.
Waktu gw masih kerja, gw anter pagi2 sampai depan RS... Terus gw tinggal gawe. Itu waktu nyokap masih bisa jalan. Lambat laun, semakin lama ibu udah lemes kakinya.
Saat saat terakhir gw ke rumah sakit bareng ibu yaitu saat Ibu kontrol ke RS ini. Sebelum2nya kalau kontrol di RS pusatnya. Oleh karena sebenernya istri pensiun PT.X golongan X, dapet fasilitas kesehatannya ya di RS ini. Ini kontrol terakhir almarhum ibu ternyata.
Hari Jumat itu, kami berempat, yaitu gw, Ibu, Bapak, dan pramurkti ke RS.X ini menuju ke 3 poli yang dirujuk dari poli umum. Singkat cerita, salah satu obat tidak tersedia dan bisa diambil 3 hari kmudian (hari Senin). Aku berniat menunggu saya sendiri obat itu, sedangkan Ibu dan lainnya pulang duluan. Ibu berucap seperti ini, "Pulang aja sekarang, obatnya gapapa diambil hari Senin" (intinya bilang seperti itu). Aku bilang gapapa Bu, aku tunggu aja, Ibu pulang langsung gapapa sama Bapak. Tapi sebelum pulang, kita tanya ke Apotok ternyata memang obatnya tidak tersedia hari ini, harus dipesan dulu. Ya sudah, akhirnya kita pulang bareng berempat lagi.
Ternyata, obat tidak juga diambil hari Senin karena Minggu paginya Ibuku sudah tiada. Innalillahi wainna ilaihi raji'un.
Hemmmm, memang sulit melupakan memori tentang Ibuku sendiri. Wanita pertama yang paling aku sayang dan cintai. Yahhhhh, memang fisik sudah tidak disini, tapi terus ada di hati.
Btw, Bapakku berangkat dari jam 8.30 sampai jam 14.30 belum juga pulangg...
Sabarrr ya Pak... Hehehehehe...
Sekitar pukul 8.30 mulai berangkat naik motor. Alhamdulillahnya ga terlalu macet. Gue berangkat ke RS ini juga perlu persiapan, yaitu persiapan mental. Persiapan itu perlu karena banyak kenangan gw di RS ini bareng almarhum nyokap gw baik itu saat2 sehat maupun saat2 sakit.
Waktu gw masih kerja, gw anter pagi2 sampai depan RS... Terus gw tinggal gawe. Itu waktu nyokap masih bisa jalan. Lambat laun, semakin lama ibu udah lemes kakinya.
Saat saat terakhir gw ke rumah sakit bareng ibu yaitu saat Ibu kontrol ke RS ini. Sebelum2nya kalau kontrol di RS pusatnya. Oleh karena sebenernya istri pensiun PT.X golongan X, dapet fasilitas kesehatannya ya di RS ini. Ini kontrol terakhir almarhum ibu ternyata.
Hari Jumat itu, kami berempat, yaitu gw, Ibu, Bapak, dan pramurkti ke RS.X ini menuju ke 3 poli yang dirujuk dari poli umum. Singkat cerita, salah satu obat tidak tersedia dan bisa diambil 3 hari kmudian (hari Senin). Aku berniat menunggu saya sendiri obat itu, sedangkan Ibu dan lainnya pulang duluan. Ibu berucap seperti ini, "Pulang aja sekarang, obatnya gapapa diambil hari Senin" (intinya bilang seperti itu). Aku bilang gapapa Bu, aku tunggu aja, Ibu pulang langsung gapapa sama Bapak. Tapi sebelum pulang, kita tanya ke Apotok ternyata memang obatnya tidak tersedia hari ini, harus dipesan dulu. Ya sudah, akhirnya kita pulang bareng berempat lagi.
Ternyata, obat tidak juga diambil hari Senin karena Minggu paginya Ibuku sudah tiada. Innalillahi wainna ilaihi raji'un.
Hemmmm, memang sulit melupakan memori tentang Ibuku sendiri. Wanita pertama yang paling aku sayang dan cintai. Yahhhhh, memang fisik sudah tidak disini, tapi terus ada di hati.
Btw, Bapakku berangkat dari jam 8.30 sampai jam 14.30 belum juga pulangg...
Sabarrr ya Pak... Hehehehehe...
Subscribe to:
Posts (Atom)